Posted by: "Hasan Abdurrahim" hasanabdurrahim10@gmail.com
Mon May 10, 2010 6:22 pm (PDT)
http://www.dakwatun a.com
Bagaimana Menyentuh Hati
Oleh: Tim dakwatuna.com
____________ _________ _________ __
dakwatuna.com – Betapa senang jika kita punya banyak teman. Betapa
gembira jika perkataan dan perintah kita diikuti orang lain. Ternyata
kuncinya ada pada suasana qalbu kita. Sehingga Rasulullah saw.
mengingatkan kita akan pentingnya menjaga hati yang bersih.
Sebagaimana sabda beliau;
“Ketahuilah bahwa sesunggunhynya dalam jasad itu terdapat segumpal
daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuhnya dan apabila ia
rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, ketahuilah bahwa ia adalah hati
(qalbu).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sungguh beruntung bagi siapapun wabilkhusus aktifis dakwah , yang
mampu menata qolbunya menjadi hati yang baik, bening, jernih, bersih,
dan selamat (صَلَحَتْ ).
Sungguh berbahagia dan mengesankan bagi siapapun sekiranya memiliki
qolbu yang tertata, terpelihara, dan terawat dengan sebaik-baiknya.
Karena selain senantiasa merasakan kelapangan, ketenangan,
ketenteraman, kesejukan, dan indahnya hidup di dunia ini, pancaran
kebeningan hati pun akan tersemburat pula dari indahnya setiap
aktivitas yang dilakukan (صَلَحَ الجَسَدُ كُلُهُ) .
Betapa tidak, orang yang hatinya tertata dengan baik, wajahnya akan
jauh lebih jernih, bagai embun menggelayut di ujung dedaunan di pagi
hari yang cerah, lalu terpancari sejuknya sinar mentari pagi; jernih,
bersinar, sejuk, dan menyegarkan. Tidak berlebihan jika setiap orang
akan merasa nikmat menatap pemilik wajah yang cerah, ceria, penuh
sungging senyuman tulus seperti ini.
Begitu pula ketika berkata, kata-katanya akan bersih dari melukai,
jauh dari kata-kata yang menyombongkan diri, terlebih lagi ia
terpelihara dari kata-kata riya. Subhanallah! . Setiap butir kata yang
keluar dari lisannya, yang telah tertata dengan baik ini, akan terasa
sarat dengan hikmah, sarat dengan makna, dan sarat akan manfaat. Tutur
katanya bernash dan berharga. Inilah buah dari gelegak keinginan di
lubuk hatinya yang paling dalam untuk senantiasa membahagiakan orang
lain.
Hati yang bersih merupakan buah dari amal yang diperbuat seseorang.
Bakr bin Abdullah Al-Muzanni, seorang tabi’in mengungkapan akan hal
ini seperti dalam penuturannya;
Jika kalian mendapati pada saudaramu kekeringan, maka segeralah
bertaubat kepada Allah, karena sesungguhnya itu merupakan akibat dari
dosa yang ia kerjakan. Dan apabila kalian mendapati dari mereka
bertambah kasih sayang, yang demikian itu merupakan buah dari
ketaatan, maka bersyukurlah kepada Allah.
Orang yang bersih hati, akal pikirannya pun akan jauh lebih jernih.
Baginya tidak ada waktu untuk berpikir jelek. Apalagi berpikir untuk
menzhalimi orang lain, sama sekali tidak terlintas dibenaknya. Waktu
baginya sangat berharga. Mana mungkin sesuatu yang berharga digunakan
untuk hal-hal yang tidak berharga? Sungguh suatu kebodohan yang tidak
terkira. Karenanya dalam menjalani setiap waktu yang dilaluinya ia
pusatkan segala kemampuannya untuk menyelesaikan setiap tugas
hidupnya. Tak berlebihan jika orang yang bersih hati seperti ini akan
lebih mudah memahami setiap permasalahan, lebih mudah menyerap aneka
ilmu pengetahuan, dan lebih cerdas dalam melakukan beragam kreativitas
pemikiran. Bersih hati ternyata telah membuahkan aneka solusi optimal
dari kemampuan akal pikirannya. Subhanallah!
Kesehatan tubuh pun terpancari pula oleh kebeningan hati, buah dari
kemampuannya menata qolbu. Detak jantung menjadi terpelihara, tekanan
darah terjaga, ketegangan berkurang, dan kondisi diri yang senantiasa
diliputi kedamaian. Tak berlebihan jika tubuh pun menjadi lebih sehat,
lebih segar, dan lebih fit. Tentu saja tubuh yang sehat dan segar
seperti ini akan jauh lebih memungkinkan untuk berbuat banyak kepada
umat.
Tarnyata hati yang bersih, sangat banyak manfaatnya. Apalagi kita
sebagai aktifis dakwah. Aktifis dakwah yang telah tertata hatinya
adalah aktifis yang telah berhasil merintis tapak demi tapak jalan ke
arah kebaikan. Tidak mengherankan ketika ia menjalin hubungan dengan
sesama manusia pun menjadi sesuatu yang teramat mengesankan. Hati yang
bersih akan mampu menaklukan hati orang lain dan itulah wasilah dakwah
kita sebelum kita menaklukan hati orang lain. Abbas As-sisi mengatakan
Abbas:
”Menaklukan hati lebih didahulukan sebelum menaklukan akalnya.”
Hati yang bersih, ibarat magnet yang dapat menarik benda-benda di
sekitarnya. Akan terpancar darinya akhlak yang indah mempesona,
rendah hati, dan penuh dengan kesantunan. Siapapun yang berjumpa
dengannya akan merasakan kesan yang mendalam, siapapun yang bertemu
dengannya akan memperoleh aneka manfaat kebaikan, bahkan ketika
berpisah sekalipun, orang seperti ini menjadi buah kenangan yang tak
mudah dilupakan. Dan tentunya bagi seorang aktifis dakwah, hati yang
bersih merupakan modal untuk dapat menaklukan hati-hati manusia untuk
diajak ke jalan yang benar yang kemudian digiring bersama-sama untuk
berjuang di jalan Allah swt.
Penting bagi setiap aktifis dakwah untuk mentadabburi hadits Rasul
saw. berikut ini;
”Ruh-ruh itu bagaikan prajurit yang selalu bersiap siaga. Maka siapa
yang mengenalnya ia akan bersatu dan jika tidak mengenalnya akan
berpecah.” (HR. Bukhori Muslim)
Subhanallah! , lebih dari semua itu, kebersihan hati pun ternyata
dapat membuat hubungan dengan Allah swt. menjadi luar biasa membawa
manfaat. Dengan berbekal keyakinan yang mendalam, mengingat dan
menyebut-Nya setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya,
membuat hatinya menjadi tenang dan tenteram. Konsekuensinya, dia pun
menjadi lebih akrab dengan Allah, ibadahnya lebih terasa nikmat dan
lezat. Begitu pula doa-doanya menjadi luar biasa mustajab. Mustajabnya
doa tentu akan menjadi solusi bagi persoalan-persoalan hidup yang
dihadapinya. Dan yang paling luar biasa adalah karunia perjumpaan
dengan Allah Azza wa Jalla di akhirat kelak, Allahu Akbar. Allahu
a’lam
http://www.dakwatun a.com/2009/ bagaimana- menggait- hati/
Selengkapnya...
Rabu, 12 Mei 2010
Bagaimana Menyentuh Hati
thalhah bin ubaidillah
Posted by: "bhq2512" bhq2512@yahoo.com.my bhq2512
Tue May 11, 2010 7:25 pm (PDT)
Syahid Yang Hidup
Thalhah bin Ubaidillah berpergian dengan sebuah kafilah Quraisy berniaga ke Syam. Setibanya di Bushra, para pedagang Quraisy masuk ke pasar yang ramai hendak berjual beli. Lain halnya dengan Thalhah yang muda usia, pengetahuan dan pengalamannya mengenai perdagangan tidak seperti para pedagang yang tua-tua. Tetapi pemuda itu pintar dan cerdik, sehingga memungkinkannya untuk berlumba dengan mereka yang tua dan berpengalaman memperoleh keuntungan dalam berdagang.
Ketika mereka sedang berada dalam pasar yang ramai dengan para pengunjung dari segala tempat, Thalhah mengalami suatu peristiwa yang mengubah jalan hidupnya secara menyeluruh. Marilah kita dengarkan Thalhah mengisahkan riwayat hidupnya sendiri.
Kata Thalhah, "Ketika kami berada di pasar Bushra, tiba-tiba seorang pendeta berseru: "Perhatian! Perhatian bagi kaum pedagang! Adakah di antara tuan-tuan yang berasal dari kota Makkah?"
Kebetulan aku berdiri tidak jauh dari pendeta tersebut. Lalu kuhampiri dia seraya berkata, "Ya, aku penduduk Makkah!"
'Sudah munculkah di tengah-tengah kalian orang yang bernama Ahmad?" tanya pendeta kepadaku.
"Ahmad yang mana?" jawabku balik bertanya
"Ahmad Ibnu 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib. Bulan ini dia pasti muncul. Dia adalah Nabi penutup. Dan dia akan keluar (hijrah dan mengungsi) dari negerimu Tanah Haram, pindah ke negeri berbatu-batu hitam, banyak pohon kurma, negeri yang subur makmur memancarkan air dan garam. Sebaiknya Anda segera menemuinya, hai pemuda!" kata pendeta itu menjelaskan. Berita yang kuterima dari pendeta itu tertanam ke dalam hatiku. Lalu kuambil unta, dan aku segera pulang kembali ke Makkah. Kafilah aku tinggalkan di belakang, sampai di Makkah, aku bertanya kepada keluargaku. "Adakah suatu peristiwa yang terjadi di Makkah sepeninggalku? "
"Ada! jawab mereka. "Muhammad bin 'Abdullah mengatakan dia Nabi. Putera Abu Quhafah (Abu Bakar Shiddiq) percaya dan mengikuti apa yang dikatakannya. "
Kata Thalhah, "Ya, aku kenal Abu Bakar. Dia seorang yang lapang dada, penyayang dan lemah lembut. Dia pedagang yang berbudi tinggi dan berpendirian lurus. Kami berteman baik dengan dia, dan menyukai majlisnya karena dia ahli sejarah Quraisy dan silsilah keturunan suku itu." Aku pergi menemui Abu Bakar dan bertanya kepadanya, "Betulkah berita mengenai Muhammad bin 'Abdullah, bahwa dia diangkat Nabi, dan Anda menjadi pengikutnya? "
"Betul!" jawab Abu Bakar. Lalu diceritakannya kepadaku kisah Muhammad menjadi Nabi dan Rasul (sejak peristiwa di gua Hira', sampai turunnya ayat pertama). Kemudian diajaknya aku masuk agama baru itu. Sebaliknya aku ceritakan pula kepadanya peristiwa pertemuanku dengan pendeta Bushra, dan berita yang disampaikannya kepadaku.
Abu Bakar tercengang mendengar ceritaku. Lalu katanya, "Marilah kita pergi menemui Muhammad. Ceritakan kepadanya peristiwa yang engkau alami dengan pendeta Bushra itu, dan dengarlah pula apa yang dikatakan Muhammad tentang agama yang dibawanya, supaya engkau tahu dan memasukinya. "
"Aku pergi bersama Abu Bakar menemui Muhammad, Setelah bertemu dengannya, dia menjelaskan tentang Islam dan membacakan beberapa ayat Al-Quran kepadaku. Kemudian digembirakannya aku dengan kebaikan dunia dan akhirat." kata Thalhah melanjutkan ceritanya.
Dadaku terasa lapang untuk menerima Islam. Aku ceritakan pula kepadanya pertemuanku dengan pendeta di Bushra. Beliau sangat gembira mendengar ceritaku, sehingga kegembiraan itu terpancar jelas di wajahnya. Kemudian aku mengucapkan syahadat di hadapannya, tidak ada Tuhan selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad adalah Rasulullah. Dengan syahadatku itu, maka aku tercatat sebagai orang ke-empat yang menyatakan Islam di hadapan Abu Bakar.
Peristiwa masuknya pemuda Quraisy ini ke dalam Islam, tak ubahnya bagaikan petir menyambar keluarganya. Mereka mengeluh, gelisah dan berkeluh kesah. Dan yang paling sedih ialah ibu Thalhah sendiri. Ibunya mengharapkan Thalhah menjadi pemimpin bagi kaumnya, karena si ibu telah melihat bakat yang terkandung dalam pribadi anaknya, tinggi dan mulia.
Orang-orang sepersukuan dengan Thalhah berusaha keras mengembalikannya ke dalam agama nenek moyang mereka, agama berhala. tetapi mereka tidak berhasil, karena pendirian Thalhah amat kokoh dan kuat, bagaikan gunung karang yang terhunjam dalam perut bumi, tak dapat digoyahkan sedikit jua. Setelah mereka putus asa membujuk Thalhah dengan cara lemah lembut, akhirnya mereka bertindak kasar dengan menyiksa dan menyakitinya.
Mas'ud bin Kharasy bercerita, "Pada suatu hari, ketika aku sa'i antara Shafa dan Marwa, aku melihat sekelompok orang menggiring seorang pemuda dengan tangan terbelenggu ke kuduknya. Orang banyak itu berlari-lari di belakang pemuda tersebut, sambil mendorongnya, memecut dan memukuli kepalanya. Bersama orang banyak itu terdapat seorang wanita lanjut usia, meneriaki si pemuda dengan caci makian.
Aku bertanya, "Mengapa pemuda itu?"
Jawab mereka, "Pemuda itu Thalhah bin Ubaidillah. Dia keluar dari kepercayaan nenek moyang, lalu mengikuti Muhammad anak Bani Hasyim."
Tanyaku, "Siapa wanita tua itu?"
Jawab mereka, "Ash Sha'bah binti Al Hadhramy, ibu kandung pemuda itu!"
Kemudian, Naufal bin Khuwalid yang dijuluki sebagai "Asadul Quraisy" (Singa Quraisy), berdiri di hadapan Thalhah dan mengikatnya dengan tali. Kemudian diikatnya pula Abu Bakar Shiddiq. Sesudah itu, kedua-duanya disatukannya, lalu diserahkannya kepada para jagoan dan tukang pukul kota Makkah, untuk disiksa sesuka hati mereka. Maka sejak itu, Thalhah dan Abu Bakar digelari orang "Al Qarinain" (Sepasang sahabat yang terikat).
Hari demi hari berjalan terus. Satu peristiwa dan peristiwa yang lain sambung-menyambung. Thalhah bin Ubaidillah semakin hari semakin dewasa. Cobaan-cobaan yang dialaminya karena mempertaruhkan agama Allah dan Rasul-Nya tambah meningkat dan semakin besar pula. Tetapi bakti dan perjuangan Thalhah menegakkan agama Islam dan membela kaum muslimin semakin tumbuh dan tambah meluas. Sehingga kaum muslimin menggelarinya "Asy Syahidul Hayy" (Syahid yang hidup), dan Rasulullah menjulukinya dengan "Thalhah Al Khair" (Thalhah yang baik), atau "Thalhah Al Jaud" (Thalhah yang pemurah), dan "Thalhah Al Fayyadh" (Thalhah yang dermawan).
Setiap nama jolokan itu mempunyai latar belakang kisah sendiri-sendiri, yang masing-masing tidak kalah penting dari yang lain. Adapun nama jolokan "Asy Syahid Hayy" (Syahid yang hidup), diperolehnya dalam perang Uhud. Ketika barisan kaum muslimin terpecah belah dan kocar-kacir dari samping Rasulullah, perajurit muslim yang tinggal di dekat beliau hanya sebelas orang Anshar dan Thalhah bin Ubaidillah dari kaum Muhajirin. Rasulullah dan orang-orang yang mengawal beliau naik ke sebuah bukit, tetapi beliau dihadang oleh ratusan kaum musyrikin yang hendak membunuhnya.
Maka bersabda Rasulullah, "Siapa yang berani melawan mereka, maka dia menjadi temanku kelak di syurga."
"Saya, ya Rasulullah! kata Thalhah.
"Tidak! Jangan engkau! Engkau harus tetap di tempatmu! Rasulullah memerintahkan.
"Saya, ya Rasulullah! kata seorang sahabat Anshar.
"Ya! Engkau!" kata Rasulullah.
Perajurit Anshar itu maju melawan perajurit musyrikin, sehingga perajurit Anshar gugur karena membela nabinya. Rasulullah terus naik, tetapi dihadang pula oleh tentara musyrikin. Kata Rasulullah, "Siapa yang berani melawan mereka ini?"
"Saya, ya Rasulullah! kata Thalhah mendahului yang lain-lain.
"Tidak! Jangan engkau! Engkau tetap di tempatmu! " kata Rasulullah memerintah.
"Saya, ya Rasulullah!" kata seorang perajurit Anshar.
"Ya! Engkau! Maju!" kata Rasulullah.
Perajurit Anshar itu maju melawan tentara musyrikin, sehingga dia gugur pula. Demikianlah seterusnya, setiap Rasulullah meminta pahlawannya untuk melawan tentara musyrikin, Thalhah selalu memajukan diri, tetapi senantiasa ditahan oleh Rasulullah dan diperintahkannya tetap di tempat, dan memberi peluang perajurit Anshar, sehingga sebelas orang perajurit Anshar gugur semuanya menemui syahid. Maka tinggallah Thalhah seorang.
Kata Rasulullah kepada Thalhah, "Sekarang engkau, hai Thalhah!"
Dalam perang itu, Rasulullah mengalami patah taring kening dan bibirnya luka, sehingga darah mengucur di muka beliau, dan beliau kepayahan. Karena itu Thalhah menerkam musuhnya dan menghalau mereka sekuat tenaga, supaya mereka tidak dapat menghampiri Rasulullah. Kemudian Thalhah kembali ke dekat Rasulullah, lalu dinaikkannya beliau sedikit ke bukit, dan disandarkannya ke tebing. Sesudah itu kembali menyerang musuh, sehingga dia berhasil menyingkirkan mereka dari Rasulullah.
Kata Abu Bakar, "Saya dan Abu Ubaidillah bin Jarah ketika sedang berada agak jauh dari Rasulullah. Setelah kami tiba untuk membantu, beliau berkata, "Tinggalkan aku! Bantulah Thalhah, kawan kalian!" Kami dapati Thalhah berlumuran darah, yang mengalir dari seluruh tubuhnya. Di tubuhnya terdapat tujuh puluh sembilan luka bekas tebasan pedang, atau tusukan lembing, dan lemparan panah. Pergelangan tangannya putus sebelah, dan dia terbaring di tanah dalam keadaan pengsan."
Rasulullah bersabda sesudah itu mengenai Thalhah, "Siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi sesudah mengalami kematiannya, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah!" Bila orang membicarakan perang Uhud di hadapan Abu Bakar Shiddiq, maka Abu Bakar berkata, "Perang hari itu adalah peperangan Thalhah keseluruhannya. "
Begitulah kisahnya, sehingga Thalhah dijuluki "Asy Syahidul Hayy" (Syahid yang hidup). Adapun sebabnya bergelar "Thalhah Al Khair " atau "Thalhah Al Jaud", mengandung seratus satu macam kisah. Akan tetapi kita nukilkan di sini dua diantaranya.
Thalhah adalah pedagang besar. Pada suatu sore hari dia mendapat untung dari Hadhramaut kira-kira 700 000 dirham. Malamnya dia ketakutan, gelisah dan risau. Maka ditanya oleh istrerinya Ummu Kaltsum binti Abu Bakar Shiddiq, "Mengapa Anda gelisah, hai Abu Muhammad, Apa kesalahan kami sehingga Anda gelisah?"
Jawab Thalhah, "Tidak! Engkau adalah isteri yang baik dan setia! Tetapi ada yang terfikir olehku sejak semalam, seperti biasanya pikiran seseorang tertuju kepada Tuhannya bila dia tidur, sedangkan harta ini bertumpuk di rumahnya."
Jawab isterinya, Ummu Kalthum, "Mengapa Anda begitu risau memikirkannya. Bukankah kaum Anda banyak yang membutuhkan pertolongan Anda. Besok pagi bagi-bagikan wang itu kepada mereka."
Kata Thalhah, "Rahimakillah. (Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu!). Engkau wanita beroleh taufiq, anak orang yang selalu diberi taufiq oleh Allah." Pagi-pagi, dimasukkannya wang itu ke dalam pundi-pundi besar dan kecil, lalu dibagi-bagikannya kepada fakir miskin kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
Diceritakanya pula, seorang laki-laki pernah datang kepada Thalhah bin Ubaidillah meminta bantuannya. Hati Thalhah tergugah oleh rasa kasihan terhadap orang itu. Lalu katanya, "Aku mempunyai sebidang tanah pemberian Uthman bin 'Affan kepadaku, seharga tiga ratus ribu. Jika engkau suka, ambilah tanah itu, atau aku beli kepadamu tiga ratus ribu dirham."
Kata orang itu, "Biarlah aku terima wangnya saja." Thalhah memberikan kepadanya wang sejumlah tiga ratus ribu.
Sewaktu terjadi Perang Jamal, Thalhah bertemu dengan Saidina Ali ra dan Saidina Ali memperingatkan agar beliau mundur ke barisan paling belakang. Sebuah panah mengenai betisnya, maka beliau segera dipindahkan ke Basrah dan tidak berapa lama kemudian karena lukanya yang cukup dalam beliau pun wafat. Thalhah wafat pada usia 60 tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basrah.
Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat radhiallahu 'anhum, "Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan di atas bumi, maka lihatlah Thalhah.
Hal itu juga dikatakan Allah SWT dalam firmanNya: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang -orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah janjinya." (Al-Ahzaab: 23)
Allahu a'lam..
http://www.khowas. com/
Selengkapnya...
Minggu, 25 April 2010
Resah
Suasana hati yang tidak nyaman membuat hati kita tidak karuan dan muncul rasa resah.Resah biasanya bersamaan juga dengan rasa gelisah. Semua orang pada umumnya pernah merasakan apa itu resah. Resah memang kadang dapat mengganggu pikiran kita.
Pertanyaannya bagaimana kita mengatasi resah dan mengambil manfaatnya.
Resah biasanya muncul apabila kita tidak mendapatkan jalan keluar ketika kita mendapat masalah. Ditambah lagi ketika tidak ada faktor pendukung yang mampu membantu kita dalam mengatasi masalah tersebut. Wah semakin resah saja.
Menjawab pertanyaan di atas ada beberapa hal yang perlu kita terapkan ketika kita menghadapi masalah sehingga resah yang kita rasakan dapat kita minimalkan.
1. Identifikasi masalah, artinya masalah kita lihat apakah berat atau tidak, perlu di atasi atau tidak.
2. Prioritaskan masalah yang akan di atasi lebih dahulu. Kalau sekiranya masalah tersebut terlalu berat dan perlu orang lain yang membantu maka masalah tersebut ditunda dulu di atasi. Atasi masalah yang ringan dulu,yang mudah kita atasi. Siapa tahu ketika mengatasi masalah tersebut juga dapat jalan keluar untuk masalah yang lebih berat.
3. Gunakan sumber daya yang ada pada diri kita. Sekiranya kita hanya mampu mengatasi masalah yang ringan berdasarkan sumber daya yang ada pada kita maka masalah itu dulu yang kita atasi, yang lebih berat baru mencari sumber daya lain diluar dari kemampuan kita.
4. Jangan malu meminta bantuan orang lain. Ketika masalah semakin berat dan kita tidak mau meminta bantuan orang lain maka kita akan merasa tertekan dengan masalah tersebut. Mintalah bantuan orang lain yang lebih mampu mengatasi masalah yang kita hadapi, paling tidak kita berbagi dengang orang lain yang dapat kita percayai.
5. Belajar dari pengalaman, maksudnya tidak lain sekiranya keresahan yang muncul karena masalah yang sama maka seharusnya kita akan lebih mudah untuk mengatasinya.
6. Jangan putus asa, artinya ketika kita sudah berusaha mengatasi masalah tersebut tetapi masih ada keresahan yang muncul maka seharusnya kita tidak berputus asa untuk mengoreksi kembali masalah tersebut apakah sudah teratasi dengan tepat atau tidak.
7. Berserah diri. Ini adalah upaya kita yang terakhir setelah berusaha untuk mengatasi masalah yang kita hadapi dengan berbagai jalan sehingga rasa resah kita berkurang. Ketika rasa resah kita tetap ada dan selalu ada maka tidak salahnya semuanya kita kembalikan kepadaNya. Barangkali ada hikmah tersendiri yang akan kita dapat.
Demikian upaya-upaya yang dapat kita terapkan ketika ada keresahan dalam menghadapi masalah di dunia. Dan mungkin banyak jalan/upaya lain lagi yang isa kita lakukan.
Semoga resahku juga berkurang, Amin.
Selengkapnya...
Minggu, 04 April 2010
Remang-remang
Ahh kayanya suasananya agak remang-remang. Itulah saat temaran cahaya tidak begitu jelas. Gelap tidak, terang juga tidak. Ini adalah keadaan dimana tidak ada kepastian. Memang seperti itu kenyataannya. Remang-remang adalah suatu ketentuan yang seharusnya tidak kita ikuti. Sama dengan ragu-ragu. Apakah kita mau sesuatu yang tidak jelas dan meragukan? Tentu saja tidak. Tetapi kenyataannya masih banyak suasana remang-remang di hampiri oleh orang-orang. Mengapa ?
Jawabnya tidak lain karena dunia. Memang dunia adalah hiasan yang menggiurkan,enak-enak yang dipilih dan biasanya yang enak-enak itu remang-remang. Hukumnya tidak jelas dan kebanyakannya adalah nyerempet bahaya, hukumnya mengarah ke haram. Pastinya subhat alias ragu-ragu.
Selengkapnya...
Minggu, 28 Februari 2010
Rizki
Adapun arti rizki ialah sesuatu yang dapat diambil manfaatnya oleh makhluk hidup seperti makanan, minuman dll. Dalam mencari reziki ada dua jalan, yakni jatan yang halal dengan bekerja sesuai tuntutan agama dan dengan jalan yang haram yaitu melanggar tuntutan agama. Yang dicari memang sama-sama reziki, yang beda cara mendapatkannya saja.
Reziki diberikan Tuhan kepada semua orang, dan telah ditetapkan bagl seseorang, tidak seorangpun dapat menghalangi walau bagaimanapun usahanya.
Orang yang yakin dan mengerti bahwa rizki itu telah ditentukan oleh Tuhan, tentu tidak akan gelisah dan tentunya tetap bertawakal dan berusaha. Setelah mendapatkan tentunya rasa syukur yang akan ada dengan cara semakin bertambah ketakwa'annya. Membelajakan sesuai tuntutan agama serta membayar zakatnya.
Selengkapnya...
Sabtu, 27 Februari 2010
Takdir
Takdir bisa diartikan sebaga4 suatu ketentuan yang harus kita jalani. Ketentuan tersebut dapat dalam bentuk yang baik ataupun yang buruk. Takdir dijadikan Tuhan bukan tidak ada arti sama sekali, tetapi penuh dengan makna.
Takdir adalah bentuk kekuasaan Tuhan yang tidak bisa kita hindari. Harus kita syukuri dan kita maknai. Betapa tidak ? Adanya kita karena kita ditakdirkan ada.
Takdir bisa juga diterjemahkan sebagai suatu ujian dan cobaan untuk menguji keimanan kita. Masalah dalam kehidupan kita sudah ditakdirkan untuk kita hadapi. Tinggal bagaiman kita menghadapi dengan keimanan kita.
Takdir merupakan hadiah. Mengapa ? Karena ketika kita sudah berusaha keras bekerja atau berusaha maka hasilnya adalah hadiah yang kita dapat merupakan ketentuan Tuhan yang harus kita terima. Dan bersyukur adalah adat kita menerima takdir tersebut.
Takdir adalah kasih sayangNYA. Ketika kita terselamatkan dalam suatu bencana maka keselamatan itu adalah takdir kasih sayangNYA.
Takdir tiada lain tiada bukan bukti dari adaNYA dengan segala sifatNYA.
Selengkapnya...
Jumat, 29 Januari 2010
Nikah siri
Pernikahan siri atau lebih di kenal nikah di bawah tangan adalah istilah yang biasa kita temukan ketika seseorang melakukan pernikahan tanpa sepengatahuan KUA dan tidak tercatat serta tidak mempunyai buku nikah. Pernikahan ini sah-sah saja dalam syariat Agama Islam. Cukup dengan Pak Kiai atau orang kepercayaan yang bisa menikahkan.
Dari segi administrasi negara atau peraturan pemerintah nikah siri dianggap salah karena tidak tercatat. Selain itu biasanya akan ada akibat lain dibelakang hari dan mungkin dapat membuat ketentraman yang telah dibina bisa retak.
Mengapa demikian ?
Orang yang melakukan nikah siri biasanya akan dengan mudah mencari isteri lagi dan dengan mudah mencerai juga, hal ini tidak lain karena tidak ada peraturan negara yang membatasinya.
Memang nikah siri bisa juga dianggap jalan keluar bagi mereka yang kebelet pingin kawin lagi. Iya dari pada zina atau berselingkuh. Tapi ijin dulu dong pada yang tua.
Dipikir-pikir nikah siri adalah alternatif untuk menghidari zina atau selingkuh . Tapi sebaiknya janganlah dilakukan. Dari sebuah peristiwa, ada sepasang suami isteri yang sudah lama menikah, kelihatannya cukup bahagia. Permasalahannya mereka menikah tanpa sepengatahuan KUA, dan memang yang namanya godaan itu ada saja. Sang suami tertarik pada seseorang wanita di lain kampung. Tanpa diketahui sang isteri menikahlah sang suami, hebatnya menikahnya di KUA dan mendapatkan buku nikah. Memang akhirnya sang isteri tahu dan itupun telah diakui sang suamg sambil menunjukkan buku nikah. Sah dari segi agama dan administrasi negara. Yah sudah pasti isteri tua tidak bisa apa2 lagi. Tidak bisa menuntut karena menikah secara siri. Barangkali akan lebih baik lakukanlah pernikahan di KUA, sah dari segi agama dan sah dari segi admingstrasi negara.
Menikah tanpa lewat KUA, awalnya mungkin tidak ada masalah apa-apa, tetapi tahukah belakangnya nanti.
Selengkapnya...