Ketika pergulan telah kita jalani ada suatu penyesuaian dan penyeimbangan yang mesti kita hadapi. Penyesuaian adalah berbentuk suatu kepatutan. Penyeimbangan berbentuk keadilan. Patut bisa juga diartikan sesuai, pas, pantas atau serasi. Patut berhubungan erat dengan kebiasaan yang terjadi dari pola pikir dan adanya hubungan antar manusia.segala sesuatu yang tidak menyalahi kebiasaan yang dianggap benar itu dikatakan patut. Kepatutan adalah merupakan kepantasan, kelayakan, kesesuain, kecocokan. Karena kita bermasyarakat maka segala yang kita lakukan hendaknya sesuai dengan batas-ba tas yang berlaku dimasyarakat.
Adil diartikan tidak berat sebelah, berpegang pada kebenaran. Adil adalah suatu bentuk peryataan kepantasan yang dilandasi norma hukum yang memungkinkan seseoran diperlakukan sesuai dengan keadaannya. Adil bukan sama rata sama rasa tetapi adil melihat dari bobot tanggungjawabnya. Artinya seseorang yang memiliki tanggung jawab besar pantas mendapat lebih dari seseorang yang mempunyai tanggung jawab kecii.
Keadilan merupakan suatu sifam, perbuatan perlakuan dan sebagainya.
Selengkapnya...
Minggu, 29 Maret 2009
Patut dan adil
Sabtu, 28 Maret 2009
Peringatan
Banyak hal yang terjadi dan kita alami pada tiap hari merupakan suatu peringatan atau teguran. Peringatan bisa berupa kata-kata dari orang lain atau simbol-simbol yang mengharuskan kita untuk hati-hati atau waspada. Bisa juga berupa akibat dari sesuatu kata-kata atau tindakan kita sebelumnya. Lalu perlukah peringatan atau teguran dalam kehidupan kita.
Hidup manusia merupakan suatu proses untuk menuju kesempurnaan. Dalam perjalanannya banyak cara yang dilakukan. Ada yang sesuai jalurnya dan ada yang menyimpang dari jalurnya. Banyak kekeliruan yang mungkin kita lakukan. Untuk meluruskan kekeliruan itulah diperlukan peringatan atau teguran. Setelah mendapatkan teguran seharusnya kita menginsafinya dan berusaha untuk memperbaikinya. Jangam marah atau kesal, sesungguhnya dengan teguran tersebut ada kasih sayang di dalamnya. Seandainya kita terus dibiarkan salah bagaimana ? Bisa sengsara kita
Maka bersyukurlah dengan peringatan tersebut. Permasalahannya adalah kita tidak mengenali peringatan atau teguran tersebut. Kalau dari kata-kata atau simbol-simbol kita dapat belajar, tapi sekiranya peringatan tersebut dalam bentuk akibat dari perbuatan kita maka ini yang sering tidak kita sadari. Pada kehidupan ada tata krama, tata tertip, pedoman/petunjuk pelaksanaan, dan yang sejenisnya. Semua itu dapat dijadikan peringatan. Di dalam agama ada kitab yang digunakan itu merupakan peringatan. Kejadian yang kita alami juga merupakan peringatan. Adanya semua itu tidak lain untuk menuju kebaikan atau kesempurnaan. Solusinya adalah kita harus mempelajarinya sehingga kekeliruan yang kita lakukan dapat diminimalkan atau bahkan tidak ada (sekiranya bisa).
Seandainya ada peringatan atau teguran janganlah dijadikan suatu masalah. Merenunglah ada apa dari teguran tersebut. Sekali lagi bersyukurlah dan berterima kasihlah dengan adanya peringatan tersebut. Itu salah satu bentuk kasih sayangNya.
Selengkapnya...
Rabu, 25 Maret 2009
Jangan meminta
Kita manusia sukanya meminta, kalau tidak diberi bisa sebel dan macam-macam. Kadang ada juga caci maki yang keluar dari mulut kita , sepertinya tidak rela kalau tidak diberi dan maunya maksa. Coba kita tanya pada diri kita, kebanyakan kita pernah mengalami, paling tidak ada rasa sebel dan kesal. Iya khan. Memang seperti itulah kita.
Seandainya kita meminta ada rasa tulus dan tidak berharap mungkin tidak akan ada kesal. Tapi mana ada begitu, meminta biasanya berharap diberi dan rasanya tidak ada basa-basi. Sekiranya ada barangkali ada satu dalam seribu. Kita berdo'a, melamar pekerjaan dan yang sejenisnya. Ada harap diberi pada semua itu. Wajar dan manusiawi kalau ada rasa harap. Tapi apakah kita perlu kecewa, kesel jika do'a, lamaran kita tidak terkabul ? Tentu tidak perlu. Biasanya yang muncul adalah sebuah pertanyaan mengapa tidak terkabul. Nah inilah yang diperlukan jawabnya. Mungkin saja kita kurang adab dalam berdo'a, atau barangkali sudah dikabulkan dalam bentuk lain atau juga hanya ditangguhkan dulu.
Melamar pekerjaan. Mungkin saja kurang perlengkapan, keterampilan atau pengetahuan sehingga kita ditolak. Atau tidak ada lowongan sesuai keahlian kita dan banyak alasan lain lagi.
Sekarang yang diperlukan adalah koreksi diri, kalau kita memang pantas ditolak atau tidak dikabulkan ya itu wajar saja. Kekurangan yang ada haruslah diperbaiki. Tetapi sekiranya dihati kita masih ada rasa kesel, sebel dan kecewa maka solusinya janganlah meminta. Lebih baik kita memberi atau mengabulkan permintaan orang lain semampu kita. Begitu juga tuntutan dari Tuhan, apakah sudah kita kabulkan. Kalau sudah mari kita berdo'a dengan hati lapang dan tidak ada setitikpun memaksa untuk dikabulkan.
Selengkapnya...
Senin, 23 Maret 2009
KESABARAN
Sabar adalah sebuah kata yang mudah diucapkan tetapi kadang sulit diterapkan. Sabar dalam kamus bahasa Indonesia adalah lapang hati, tahan menderita sesuatu cobaan, mudah memaafkan, tidak lekas marah, tidak tergesa-gesa, tidak terburu nafsu. Sabar sepatutnya ada dalam diri manusia. Banyak kerusakan yang dikarenakan ketidaksabaran kita terhadap sesuatu. Di dalam agama Islam kita dituntut untuk bersabar dalam ketaatan dan bersabar dalam menjauhi kemungkaran. Kenapa mesti bersabar ?
Untuk berbuat taat dan menjauhi kemungkaran tidaklah mudah. Cobaan dan godaan selalu ada. Nah inilah titik pangkal kesabaran yang harus ada. Ketika kita berbuat taat banyak perintah dan larangan yang harus kita jalankan. Kalau kita tidak sabar menjalankannya maka kemungkinan perbuatan taat kita tidak akan sempurna atau tidak sama sekali atau cuma setengahnya. Begitu juga ketika menjauhi kemungkaran banyak godaan yang kelihatannya seperti hal-hal yang menyenangkan tetapi sesungguhnya tipu daya setan saja. Seandainya kita tidak sabar dan tergoda kesenangan sesaat tersebut maka murka Tuhan akan kita terima.
Sabar memang cukup dalam artinya dan bisa diterapkan pada semua segi kehidupan.
Dipandang dari kesehatan maka sabar sangat diperlukan. Ketika menerima pengobatan haruslah taat terhadap petunjuk dan harus juga sabar menjauhi pantangan, tujuannya tidak lain untuk membantu kesembuhan.
Untuk kehidupan berkeluarga sabar merupakan kunci keutuhan berkeluarga.
Selengkapnya...
Minggu, 22 Maret 2009
JUJUR
Jujur bisa juga diartikan amanat, dapat dipercaya. Jujur biasanya meletakkan sesuatu pada tempatnya, sesuai apa adanya tidak melebihkan dan mengurangi. Dalam sehari-hari jujur disebut juga terbuka. Sebaliknya orang tidak jujur disebut pembohong, khianat tidak dapat dipercaya. Jujur adalah sifat utama yang pelaksanaannya dituntut orang lain. Tidak melihat siapapun, apabila jujur maka dia dapat dipercaya. Namun dijaman sekarang ini sepertinya jujur merupakan barang langka.
Jujur adalah suatu perkataan atau perbuatan sesuai dengan kebenaran. Jujur sejalur dengan kebenaran. Jujur merupakan pokok atau dasar dari sifat-sifat baik. Bila jujur ini tidak ada dalam diri seseorang maka sifat baik lainnya sulit untuk diwujudkak. Sebenarnya kejujuran itu untuk diri kita sendiri dan kalau berbohong akibatnya pada diri kita sendiri (membohongi diri sendiri).
Rasulullah menyimpulkan semua kebaikan dalam 6 hal (menurut Abu Laits Assamargandi), yaitu :
1. Berkata benar, baik benar dengan Allah maupun dengan sesama manusia.
2. Menepati janji, baik vertikal maupun horizontal.
3. Menunaikan amanat baik dari Allah maupun sesama.
4. Memelihara kehormatan, baik dari subhat maupun haran juga dari yang terlihat maupun melihatnya.
5. Pejamkan mata dari hal yang subhat maupun haram.
6. Jagalah tanganmu dari hal-hal yang haram, baik soal harta maupun lainnya.
Lalu bagaimana caranya menegakkan sifat jujur pada diri kita sendiri ?
Jawabannya tidak lain adalah :
1. Membiasakan berkata benar apa adanya, sesuai perkataan dengan perbuatan.
2. Mengakui kesalahan jika salah dan dapat mengakui kebenaran orang lain.
3. Tidak berdusta karena tanda orang yang berdusta terlihat dari wajahnya yang hitam.
4. Jujur mengantar pada derajat terhormat, tidak akan ada kebingungan.
Jujur pada pribadi pada dasarnya mengakui kebenaran sang Pencipta tanpa ada dusta.
Sehubungan dengan pemilu nanti, apakah jujur kita semua, caleg yang terpilih apakah nantinya bisa jujur, amanah dan bukan hanya tinggal janji saja.
Selengkapnya...
Rabu, 18 Maret 2009
Bergaul
Di setiap bidang kehidupan ada yang namanya pergaulan dan kerjasama. Banyak pengetahuan yang dapat diambil dari pergaulan. Pengalaman-pengalaman dari orang lain kadang sangat berguna dan berarti jika kita bisa mengambil pelajaran. Pada dasarnya pengetahuan dan keterampilan kita adalah hasil dari pergaulan kita dengan orang lain. Sebab kepandaian tidaklah kita bawa dari masa kelahiran. Bicara saja kita diajari.
Pergaulan juga menumbuhkan kerjasama untuk memecahkan masalah. Banyak hal yang tidak bisa kita tanggulangi sendiri tanpa bantuan orang lain.
Manusia diciptakan Tuhan dalam keadaan lemah dan terus berproses menjadi mampu dan lebih kuat karena pergaulan dan kerjasama dengan orang lain. Perasaan lebih dari orang lain hendaknya dihindarkan. Berlakulah jujur terhadap diri sendiri. Karena kita saling membutuhkan maka sesungguhnya kita sama saja dengan orang lain.
Kerjasama dalam Islam merupakan suatu kewajiban sosial dan agama. Sosial untuk keperluan hidup dan agama untuk menguatkan pondasi iman kita dan persaudaraan.
Sehari-hari, orang dapat bergaul dengan bebas namun harus masih dalam batas kesopanan dan tidak melanggar norma agama. Dalam agama Islam batas-batas sebagai berikut :
1. Firman Allah dalam Surat Al-Isra' ayat 32 yang artinya "Dan janganlah kamu sekalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk".
2. Tidak berdua-duaan karena orang ketiga adalah setan yang dapat mempengaruhi kepada hal negatif.
Pergaulan bebas yang tidak mengenal batas dilarang dalam agama Islam, bahkan dosa besar. Lalu bagaimana ciri-ciri pergaulan yang sopan itu.?
Pergaulan yang sopan itu ialah :
1. Tahu batas yang diperbolehkan dan yang dilarang.
2. Masing-masing pihak mengetahui batas.
3. Dapat menjaga diri dari kegelisahan orang tua.
4. Tidak berdua-duaan ditempat yang sunyi.
5. Dapat menjaga norma agama, sosial dan adat istiadat.
Pergaulan jangan hanya pingin gaul (gaul gitu lho...), tetapi punya kedali diri yakni norma agama. Karena kalau sudah rusak maka rendahlah martabatnya.
Pembinaan, kasih sayang dan saling menghormati dan saling berbuat baik adalah solusi yang dianjurkan dalam kehidupan berkeluarga.
Bahan bacaan.
Aqidah-Akhlak untuk Madrasah Aliyah kelas 1, CV.ARMICO, Bandung, 1987
Selengkapnya...
Senin, 16 Maret 2009
Kenangan
Hidup kita berjalan dan terus berjalan, seiring waktu juga berdetik, bergulir seperti bola dan mengalir seperti air.
Ada yang mesti tertinggal dan mesti kita tinggal. Kita tak bisa membawanya. Itulah kenangan, manis ataupun pahit (kalau bisa dirasa ). Tapi sesungguhnya kita perlu kenangan untuk memberikan hidup kita bisa lebih baik. Ya kenangan yang bisa memotivasi bukan kenangan yang membuat kemunduran diri kita. Memang tidak bagus juga terlalu banyak kenangan. Kata orang bisa membuat sakit jiwa apabila terlalu mengingatnya.
Manfaat dari kenangan tidak lain sebagai pelajaran untuk masa yg akan datang. Menjadi cermin bagi kehidupan. Semua orang pasti mempunyai kenangan tinggal bagaimana menyikapinya. Mau melupakan saja, atau menjadi pelajaran. Masalah manis atau pahit itu sesungguhnya variasi saja. Kalau kemanisan malah nanti bisa kencing manis (he..he bercanda), perlu juga dong yang pahit biar seimbang. Semua yang terjadi sudah memjadi ketentuanNya. Semua ada hikmahnya, begitu juga kenangan. Mengapa kita tidak peduli dengan kenangan.? Belajarlah dari kenangan. Bukan hanya dikenang-kenang.
Selengkapnya...